Manusia Indonesia harus ber-Tuhan
Mengapa dalam sila pertama Pancasila harus berketuhanan dulu?. Tanpa berketuhanan semua menjadi mati tidak hidup karena Tuhan merupakan hidup itu sendiri!. Sekarang orang beragama tanpa ketuhanan maka agamanya menjadi mati tidak berjiwa, karena mereka menyembah agamanya bukan menyembah Tuhan, atau disebut primordial sempit. Kalau semua pemeluk agama sudah menyadari tentang ketuhanannya masing-masing, tidak akan ada lagi pertentangan karena pertentangan itu hanya ada di kelompok kesadaran rendah. Dalam tataran kelompok dengan kesadaran yang lebih tinggi sudah tidak ada lagi pertentangan dalam segala sesuatunya. Dengan sila Ketuhanan sebagai sila pertama maka tidak ada lagi pertentangan antara satu dengan yang lain mengenai Tuhan yang melingkupi seluruh alam semesta ini.
Apabila agama yang dicantumkan sebagai sila pertama, pasti keadaan menjadi kacau karena banyak penganut agama dan kepercayaan yang menjadi ribut menginginkan agama atau kepercayaannya dijadikan sebagai landasannya, akibatnya, kekacauan akan terjadi di mana-mana dan tidak akan pernah ada kesatuan.
Walaupun sesungguhnya semua agama di mata Tuhan adalah sama adanya, tetapi dalam pandangan manusia tidaklah demikian karena agama adalah aturan atau sarana pengendalian yang di dalamnya mengandung hak dan kewajiban yang harus ditaati dan dilaksanakan dalam kehidupan masing-masing penganutnya. Karena itu, manusia harus memilih satu saja dari sekian banyak agama yang ada sebagai aturan yang harus ditaati dan dijalankan dalam kehidupannya sendiri. Tidak boleh mengimani semua agama karena tidak akan dapat melaksanakan semua ajarannya.
Semua agama adalah baik dan benar jika para penganutnya dapat menggunakan agama yang dipilih untuk meningkatkan kesadarannya dari manusia yang berkesadaran rendah, meningkat menjadi manusia yang manusiawi atau berkesadaran sebagai manusia, sampai akhirnya mencapai tingkat “Kesadaran Ketuhanan”.
Apabila manusia meyakini suatu ajaran agama, tetapi ternyata mereka tidak meningkat kesadarannya malahan mereka tetap berada dalam kesadaran rendah, bahkan lebih rendah lagi maka yang salah bukan ajaran agamanya, melainkan para penganutnya yang salah kaprah atau salah dalam pemahamannya sehingga tidak ada perubahan kebaikan dalam kehidupannya, mereka itu merupakan manusia yang sesat.
Pada kondisi saat ini perilaku para pengikut ajaran agama memperlihatkan rendahnya kondisi kesadaran mereka. Mereka menyempitkan ruang lingkup agama itu sendiri dan mereka mengkotak-kotakkannya. Itu semua menjadikan mereka lebih buas dan sadis, mereka berpandangan sempit, kadang-kadang menyesatkan. Karena adanya kedangkalan akan ketuhanan maka mereka mudah sekali dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dari luar dan mereka mudah sekali diadu domba dan diperdaya oleh orang lain.
Jaman dahulu orang jahiliyah berperilaku kejam dan sadis karena belum ada agama yang masuk ke dalam dirinya. Sekarang meskipun agama masuk dan sudah ribuan tahun usia agama, kualitas dirinya bukannya lebih baik melainkan sebaliknya lebih jahiliyah dari sebelumnya. Ini menandakan bahwa setiap penganut agama memerlukan pembimbing yang sudah menyatu dengan Tuhan agar mereka mendapatkan pencerahan dari apa yang mereka anut dan yakini.
Terlalu panjangnya rentang waktu antara kehidupan kita saat ini dan masa kehidupan para pembawa agama menjadikan pandangan terhadap agama pun berubah. Untuk menghindari agar ajaran agama tidak menyimpang, kita memerlukan pembimbing yang sempurna. Apakah ada? Ya, pasti ada. Hanya, bagaimana kita dapat mengetahui keberadaan mereka bila hati kita buta, dan kita masih tertidur lelap dalam kebodohan dan ketidaksadaran. Biarpun mereka ada di depan kita, kita tidak dapat mengetahuinya, kecuali kalau kita sudah terbangun dari kesadaran rendah, maka hati yang buta akan dapat melihat kembali. Dengan sendirinya kita dapat menyaksikan pembimbing sempurna tadi di dalam hidupnya.
Dalam rangka mewujudkan manusia yang sempurna, kita harus melalui jalan yang terjal. Sesungguhnya jalan ini memang benar-benar ada bukan semata-mata hanya khayalan saja. Ada nama atau sebutannya pasti ada wujudnya, dan ada manusia yang sudah pernah mencapaiNya. Siapa mereka? Mereka merupakan manusia yang suci yang kalau di Islam biasa disebut Wali Yullah, atau dalam agama lain disebut Budha atau Dewa dan lain sebagainya.