Figur Pemimpin Indonesia
Salah satu sifat pemimpin tersebut ialah bahwa dia dapat mengendalikan diri karena di dalam zaman kegelapan ini atau kaliyuga, manusia sulit untuk mengendalikan dirinya. Dia dapat mewujudkan kesucian baik dalam pikiran, ucapan dan tindakan, serta dapat mempraktikkan cinta kasih atau welas asih terhadap dirinya maupun terhadap orang lain, dan dapat mewujudkan sifat-sifat kebenaran dalam perilakunya. Pengendalian diri dan kesucian ini dapat gugur karena keterikatan atau kelekatan akan mempengaruhi kejernihan pandangan pikiran manusia.
Seorang pemimpin harus dapat mewujudkan dan menjunjung tinggi kebenaran, serta menciptakan iklim pergaulan yang jujur dan benar. Kesadaran kita akan merosot karena pergaulan kita dengan orang-orang yang tidak mendukung peningkatan kesadaran karena keterikatan dengan keadaan yang tidak mendukung evolusi batin.
Pemimpin Indonesia harus dapat menciptakan lingkungan yang bisa mendukung peningkatan kesadaran dan evolusi batin manusia Indonesia. Dengan terjadinya evolusi batin manusia ke arah kesempurnaan diri maka tiap proses pembangunan bangsa akan diarahkan dan ditujukan terhadap evolusi batin manusia. Pemimpin ini dalam setiap tindakan maupun pekerjaannya akan dilandasi oleh cinta kasih sebagai perekat dalam interaksinya dengan orang lain maupun lingkungan di sekitarnya.
Banyak orang yang menciptakan perekat-perekat baru dalam setiap hubungannya dengan orang lain maupun lingkungannya, bukan mempraktikkan perekatan dengan cinta kasih, yang akhirnya menyebabkan mereka terperangkap oleh perekat-perekat yang mereka usahakan dan ciptakan sendiri. Bagi seorang pemimpin yang sudah dapat mengendalikan suka dan duka serta sudah dapat menghilangkan makna suka duka tersebut, bagi dia semuanya sama saja di dalam menghadapi segala permasalahan yang bersifat dualisme.
Karena pengendalian diri dan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sudah dapat diwujudkan di dalam setiap perilaku hidupnya maka di dalam menjalankan roda kepemimpinannya dia akan menjadikan dirinya dan pengalamannya sebagai tolok ukur untuk menyejahterakan, memakmurkan, dan mengamankan negara dan rakyatnya.
Pemimpin tersebut tidak perlu menunggu orang lain untuk merasakan kesatuan dan persatuan dengan dirinya, keberhasilannya mengembangkan rasa persatuan dan kesatuan di dalam dirinya sudah cukup untuk mengetahui diri-diri yang lain atau manusia-manusia lain karena kesatuan diri sebagai sesama manusia.
Umat manusia akan menjadi sangat kaya jika dapat merasakan kesatuan dan persatuan dengan sesama manusia. Sesungguhnya pengalaman seorang manusia yang Pancasilais sudah cukup untuk menyadarkan kita akan kemuliaan dan kesucian atau kesempurnaan di dalam diri kita. Pengalaman-pengalaman pemimpin yang Pancasilais sudah cukup untuk membangkitkan kesadaran, kasih, dan juga dapat mengajak kita berpaling kepada yang satu adanya, yaitu Tuhan.
Maka dari itu, jika negara mau menjadi makmur dan sejahtera harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang sudah mengetahui kemakmuran dan kesejahteraan, serta sudah mengetahui bagaimana memakmurkan dan mensejahteraan dirinya. Dengan sendirinya dia dapat memakmurkan dan menyejahterakan orang lain atau masyarakat, dan negaranya.